Menulis Semudah Ceplok Telor

 

Belajar Menulis PGRI

 

Pertemuan ke: 12

Gelombang : 27

Tema: Menulis Semudah Ceplok Telor

Narasumber : Dra. Lilis Herpianti Sutikno, SH

Moderator : Widya Setianingsih

 


“Orang pintar itu biasa, orang hebat itu luar biasa, tapi orang beranilah pemenangnya”. Sebuah kalimat motivasi penuh inspirasi yang menemani saya untuk tetap bertahan di kelas belajar menulis Bersama PGRI, yang tidak terasa sudah memasuki pertemuan ke-12. Hampir separuh perjalanan sudah terlewati, begitu banyak ilmu baru yang saya dapatkan. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur, dan merasa beruntung, karena berkesempatan untuk belajar bersama narasumber-narasumber yang hebat dan luar biasa.

Malam ini narasumber yang hadir adalah Dra Lilis Herpianti Sutikno, SH, seorang guru di SMPN 2 Nekamase dan bertempat tinggal di Kupang. Beliau merupakan founder program diklat menulis MBI (Belajar Menulis pasti menjadi Buku Ber ISBN). Bunda Lilis juga merupakan peraih juara kedua tingkat nasional dalam lomba “My Teacher My Hero Award Indonesia Digital Learning Tahun 2015” bersama Telkom dan Intel Processor.

Menulis itu hal yang mudah, dan tidak sulit. Bahkan Bunda Lilis mengibaratkan menulis itu semudah membuat ceplok telur. Hal ini dibuktikan dengan keaktifan beliau menulis setiap hari di media sosial miliknya. Sempat terlintas dalam pikiran ketika melihat flyer belajar menulis yang di-share sebelum kelas dimulai. Menulis. Semudah membuat ceplok telor? Apakah semudah dan sesimpel itu, ibaratnya dalam waktu yang sangat singkat dan gampang, bisa tersaji tulisan seenak dan selezat telor ceplok?

Menurut Bunda Lilis, untuk menjadi penulis modal awalnya adalah membaca. Menulis semudah membuat ceplok telor, adalah quote beliau untuk memotivasi siapa saja yang ingin menjadi penulis. Yang penting modal awal harus dilakukan, yaitu rajin membaca. Bukankah dengan banyak membaca wawasan kita akan selalu bertambah, kita akan tahu info-info terbaru dan juga ter update. Hal-hal yang lagi trend juga bisa digunakan para penulis untuk dikembangkan menjadi tulisan.

Imam Syafi’I rahimahullah pernah bertutur, “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja.” Ilmu diibaratkan seperti binatang buruan. Karena sebagai manusia ingatan kita sangat terbatas, maka sebaiknya kita ikat ilmu kita, di antaranya yaitu dengan cara menulis. Ilmu kita tidak akan hilang, bahkan bisa bermanfaat bagi banyak orang. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya?

“Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah” (Imam Ghozali). Ungkapan sang ulama besar telah berhasil menginspirasi narasumber hebat malam ini. Dulu banyak orang yang tak mengenal beliau, tetapi karena menulis banyak orang jadi mengenalnya. Bahkan, buku perdana beliau, telah berhasil cetak lebih dari tiga ribu buku. Amazing, bukan?

Menurut Bunda Lilis, menulis itu semudah ceplok telor, kita bisa menulis apa saja. Kita jug perlu latihan menulis setiap saat. Hal yang beliau tekankan juga adalah, jangan mencari waktu luang untuk menulis. Tetapi luangkan waktu kita untuk menulis agar terlatih dan terampil untuk mengolah kata demi kata hingga merangkai kalimat demi kalimat dengan sempurna.

Demikian resume belajar malam ini, semoga bermanfaat. Mengutip kalimat dari ibu  Widya Arema selaku moderator ketika mengakhiri kelas, Kita tidak akan paham takdir tulisan kita akan menghilir ke mana, tapi dengan tetap terus menulis insya Allah tulisan kita akan sampai pada takdir yang indah. Believe or not is yours, prove it!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Motivasi Menulis dan Menerbitkan Buku

Menulis Cerita Fiksi itu Mudah